Senin, 30 Juni 2014

Do'a-Do'a Dari 6 Nabi

Bismillahirohmanirrohim

Assalamualaikum Wr. Wb.

Di dalam Alquran yang suci, banyak dikisahkan tentang perjalanan dakwah para Nabi dan Rasul. Doa dan dzikir enam orang nabi yang termaktub di dalam alquran ini berbicara tentang doa dan dzikir yang dipanjatkan oleh para nabi sebagai bagian dari serangkaian kisah yang dialami oleh ke-enamnya. Para nabi itu adalah Ibrahim as, Yunus as, Ayyub as, Yusuf as, Zakariyya as. dan Sulaiman as.
Pernahkah kita bertanya bagaimana cara Nabi Ibrahim as. bisa selamat dari api yang disiapkan Raja Namrud? atau bagaimana caranya Nabi Yunus as. bisa keluar dari perut ikan besar di dasar samudera? atau bagaimana Nabi Ayyub as. mampu bertahan dan sembuh dari penyakitnya? lalu bagaimana Nabi Yusuf as. bisa keluar dari sumur di tengah padang pasir? dan bagaimana Nabi Zakariyya as. yang mandul dan telah hidup lama itu bisa memperoleh sorang anak? serta bagaimana nabi Sulaiman as. mendapat anugerah kerajaan yang sebelum dan sesudahnya tidak akan dimiliki oleh seorang manusia pun?

Saya ingin kita melihat kisah Nabi Yunus as, sampai pada satu titik perjuangan dakwahnya, beliau merasa putus asa akan sikap umatnya, padahal putus asa itu adalah hal yang tidak pantas dan dosa bagi manusia apalagi ia adalah seorang nabi. Beliau mendoakan kehancuran bagi umatnya dan berlari meninggalkan mereka. Oleh karena itu Allah menghukum beliau dengan cara ditelan oleh seekor ikan besar di samudera luas.
Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela karena meninggalkan kaumnya. (QS. Ash-Shafaat : 142)

Setelah berada di dalam perut ikan dalam waktu yang cukup lama beliau sadar dan berdoa kepada Allah swt. memohon ampun atas segala dosa. Allah SWT. tidak serta merta mengabulkan doanya, Kemudian Dia mengilhamkan kepadanya (Yunus as.) sebuah dzikir yang terkenal , La ilaha illa Anta, Subhana-ka inni kuntu minazh-zhalimin,

Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”(QS. A-Anbiyya : 87).

Maka mulailah Yunus as. bermunajat dan berdzikir  kepada Allah SWT. sampai kemudian  Allah SWT. memperkenankan doanya dan terbebaslah dia dari dalam perut ikan itu.

Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.(QS. A-Anbiyya ayat 88).

Seandainya tanpa dzikir dan munajat tersebut, niscaya beliau masih berada di dalam perut ikan besar tersebut sampai hari kiamat.
Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,(QS Ash-Shafaat : 143).
niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (QS Ash-Shafaat : 144)

Kemudian kita lihat  bagaimana Nabi Ayyub as. yang bertahun-tahun menderita sakit, selama itu pula untaian dzikir dan doa mengalir dari mulutnya memohon kesembuhan. Dan Allah SWT mengilhamkan dzikir  ” Anni massaniyadh dhurru wa Anta Arhamur rahimin”
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS Al-Anbiyaa : 83)

Lalu dengan dzikir itulah Allah SWT mengabulkan doa beliau pada ayat 84.

Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.(QS Al-Anbiyaa : 84)

Lalu kita lihat kisah Nabi Zakariyya as. yang bertahun-tahun hingga hari tuanya hidup dalam kemandulan, padahal beliau sangat menginginkan seorang anak sebagai penerus risalahnya. Dalam tahun-tahun  kemandulannya beliau terus berdoa kepada Allah agar dikarunai seorang anak, sampai pada suatu ketika Allah mengilhamkan sebuah dzikir yang dengannya beliau bermunajat.

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.” (QS Al-Anbiyaa : 89).

selang beberapa lama Allah mengabulkan doanya dengan kelahiran  Yahya as.

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.(QS Al-Anbiyaa : 89).
 Sedangkan Nabi Sulaiman bin Daud as. seorang nabi dan raja, Beliau dianugerahi Allah SWT. sebuah kerajaan dan kekuasaan yang tidak seorang pun menyamainya sebelum dan sesudahnya.

Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS Al-Anbiyaa : 81).
Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu, (QS Al-Anbiyaa : 82).
Seluruh kerajaan dan kekuasaan terhadap jin dan manusia ini diberikan oleh Allah melalui dzikir Al Wahhab (yang Maha Pemberi),
Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (QS. Shaad : 35)

dan munajat itu dijawab oleh Allah SWT.
Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya,dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam,dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu.Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab.(QS. Shaad : 36-39).
Adapun kisah Nabi Yusuf as. yang diceburkan ke dalam sumur di tengah padang  pasir oleh para saudaranya, Beliau bisa selamat karena sebuah dzikir yang diwahyukan Allah melalui malaikat Jibril as.

Allahumma inni asaluka bi anna lakalhamdu laa ilaaha illaa Antal mak nnanu badii’ussamaawaati  wal ardhi yaa dzaljalaali wal ikram, an tushalliya ‘alaa Muhammadin wa aali Muhammadin wa antaj’alalii min amrii farajan watarzuqanii min haitsu ahtasibu wamin haitsu laa ahtasibu.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu bahwa segala puji bagi-Mu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Maha Pemberi, Pencipta langit dan bumi , wahai Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad dan adakanlah untukku dari setiap urusanku kelapangan dan jalan keluar; dan berilah aku rezeki dari arah yang aku sangka dan dari arah yang tidak aku sangka-sangka. (‘Uddah ad-da’i, Ahmad bin fahd al-Hilli)

Dan jawaban Allah atas doa dan dzikir beliau adalah seperti yang terdapat pada Surat Yusuf ayat 19,
Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya, dia berkata: “Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!” Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.(QS. Yusuf :19)

Sedangkan di dalam sebuah riwayat, Nabi Ibrahim as. diselamatkan oleh Allah dari api yang dipersiapkan oleh raja namrud melalui dzikir yang tertulis pada  sebuah cincin yang diberikan oleh Allah SWT. Pada cincin itu tertulis enam buah kalimat dzikir, yaitu 1. Laa ilaha illallah (Tiada Tuhan selain Allah) 2. Muhammadur-rasulullah (Muhammad adalah Rasul Allah) 3. Laa hawla wala quwwata  illa billahi (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) 4. Fawwadhtu amri ilallah (Aku serahkan urusanku kepada Allah) 5. Asnadtu zhahrii ilallah (Aku sandarkan pertolongan kepada Allah) 6. Hasbiyallah (Cukuplah Allah menjadi Penolongku).

Allah mewahyukan (melalui Malaikat Jibril as.) kepada Nabi Ibrahim as.,”Pakailah cincin ini, niscaya Aku akan menjadikan api ini dingin dan keselamatan bagimu!” (Maksudnya berdzikirlah dengan keenam kalimat itu). Maka api pun menjadi dingin dan selamat lah Nabi Ibrahim as.
Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”,(QS Al-Anbiyaa : 69).

Kalau kita perhatikan, bahwa Allah mampu  dan berkuasa untuk mengabulkan doa dan menyelamatkan para nabi-Nya tanpa harus melalui proses dzikir dan doa terlebih dahulu, Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. akan tetapi Allah SWT ingin dzikir dan doa tersebut menjadi alat bagi Kekuasaan dan Keagungan-Nya, yang tanpanya tidak akan akan penyelamatan, penerimaan taubat, pembebasan dan pilihan.

Kita lihat juga bahwa yang mampu menyelamatkan, menerima taubat, dan membebaskan para nabi itu adalah bukan kedudukan, iman dan amal salehnya mereka di mata Allah, melainkan dzikir dan doa yang telah dijadikan Allah sebagai kunci keselamatan dan penghilang bagi kedukaan dan kesusahan. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama untuk terus berdzikir kepada Allah SWT. selalu mengingat-Nya adalah jalan keselamatan bagi manusia. Satu hal yang harus kita ketahui adalah bahwa dzikir itu merupakan intisari dari semua ibadah yang kita lakukan kepada Allah SWT. Hanya dengan berdzikir kepada Allah SWT. hati akan menjadi tenang dan bahagia, so jadilah orang yang bahagia lahir bathinnya dengan memperbanyak berdzikir kepada Allah SWT.

Wallahu ‘alam

Wassalamualaikum wr.wb.

IKHTIAR dan TAWAKAL

IKHTIYAR
Ust. Abdullah Nashih Ulwan, mejelaskan dua dimensi taqdir dari sudut pandang makhluk: taqdir yang musayyar [ yang hamba tidak ada ikhtiyar di dalamnya], dan taqdir yang mukhoyyar [yang hamba diharuskan berikhtiyar dan disediakan balasan atas ikhtiyarnya itu]. Atas sifat kasih sayang Allah, Dia memberikan potensi dan sarana yang sifatnya musayyar [akal, petunjuk, peluang, fisik, dsb] yang dengan potensi itu hamba harus berikhtiyar sehingga hadir ketentuan Allah yang terbaik untuk hamba-Nya. Dengan kata lain, usaha untuk memenuhi ketentuan sebab akibat itulah tempatnya ikhtiyar, adapun atas hasilnya tentu sesuai dengan qadar Allah yang kemudian kita dituntut untuk bertawakal.
:Firman Allah 
إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ ماَ بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِِِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ؛ وَ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ سُوْءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهِ مِنْ وَالٍٍٍٍ [الرعد:11]
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. Ar Ra’du:11
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ(18)
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Al Hasyr:18


TAWAKAL
Ust. Abu Bakar Jabir al Jazaairi menyampaikan:

“Tawakal bagi seorang muslim ialah perbuatan, dan harapan dengan disertai hati yang tenang, jiwa yang tenteram dan keyakinan yang kuat pasti terjadi, apa yang tidakbahwa apa yang dikehendaki Allah tidak menyia-nyiakandikehendaki-Nya tidak akan terjadi, dan Allah pahala orang yang berbuat baik.

[qadha’Karena orang Muslim mempercayai ketentuan-ketentuan Allah Allah] pada alam semesta, maka ia menyiapkan sebab-sebab yang diperlukan bagi semua perbuatannya, berusaha sekuat tenaga untuk menghadirkan sebab-sebab tersebut dan menyempurnakannya. Namun, ia tidak menyakini sebab-sebab adalah satu-satunya jaminan untuk tercapainya tujuan dan kesuksesan usaha. Adapun pencapaian hasil dan sukses, maka seorang Muslim menyerahkan nya kepada Allah, karena hanya Dia yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, Dia satu-satunya tempat bergantung! Dan bukan yang lainnya.
Hanya menggantungkan kepada sebab adalah kesyirikan sementara meninggalkan sebab yang diperlukan bagi perbuatannya padahal ia mampu menyiapkannya adalah kefasikan.”
setiap keluar rumah:Ini adalah kandungan doa Rasulullah 

بسم الله توكلت على الله ولا حول ولا قوة إلا بالله…

“ Dengan Asma Allah, aku bertawakal kepada Allah, dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah..”
berfirman:Allah 

فـَـــإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ
“ Jikalau kau bersungguh-sungguh akan melakukan sesuatu, berserahlah kepada Allah.
وَ مَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya” At Thalaq:3

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” An Nahl:97

“Dan, barangsiapa mengerjakan amal-amal sholih danb dia dalam keadaan beriman, maka dia tidak akan khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak pula pengurangan haknya.” Thaha:112

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, pasti Ia jadikan baginya jalan keluar> Dan memberinya rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka”. At Thalaq:2-3

Minggu, 29 Juni 2014

MULAI HARI INI...............

SUDAHKAN ANDA MENULISKANNYA?

Jika Anda hendak MENEMPUH suatu RUTE PERJALANAN ke luar kota yang RUMIT, Anda akan MENULISKAN ARAHNYA. Tetapi jika Anda sedang BERPIKIR tentang MASA DEPAN HIDUP Anda, TUJUAN Anda, dan APA yang Anda PERLUKAN untuk MERAIHNYA, mungkin Anda TIDAK MENULISKAN apa pun. PIKIRKANLAH—PERJALANAN PALING PENTING dalam HIDUP Anda, dan Anda bahkan TIDAK MENULISKAN PETUNJUK ARAH sedikit pun!

MENULISKAN RENCANA, TUJUAN, dan GAGASAN-GAGASAN Anda akan MEMBUAT hal tersebut menjadi LEBIH NYATA bagi Anda. Setiap LANGKAH yang Anda TEMPUH untuk MENENTUKAN APA yang Anda INGINKAN dan APA yang Anda PERLUKAN untuk MENCAPAINYA akan MENINGKATKAN KESEMPATAN Anda untuk “benar-benar” MENGEJAR TUJUAN tersebut dan MERAIHNYA suatu hari nanti

# Sebelum kau mengatakan kata-kata yang tidak baik, Fikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berkata-kata sama sekali.# Sebelum kau mengeluh tentang rasa dari makanan, Fikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.# Sebelum kau mengeluh tidak punya apa-apa, Fikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.# Sebelum kau mengeluh tentang anak-anak, Fikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.# Sebelum kau mengeluh tentang letihnya pekerjaan, Fikirkan tentang pengangguran yang berharap segera mempunyai pekerjaan. # Sebelum kau mengeluh tentang hidup, Fikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat

Angin bawalah serbuk sariku padanyaBunga mawar putih dipojok taman ituWanginya membuatku terpesonaSungguh hanya dia yang kupuja

Angin sampaikanlah padanyaSemua yang telah aku amanahkanIngat! Dengan desiran yang lembutKencangnya anginmu akan membuat dia jatuh

Angin telah kau sampaikankah serbuk sariku?Kepada bunga mawar putih dipojok taman ituKau tak lupa menyampaikannya kan?

Angin bantulah akuDia sangat jauh untuk langsung ku raihSampaikanlah serbuk sariPada bunga mawar putih dipojok taman itu 

Kejujuran Hanya Milik Kita Sendiri

belajar jujur dari Ibnu al-Mubarok. - Ramadhan adalah latihan kejujuran. "Dan janganlah kamu campur adukan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahiunya".QS. Al-Baqarah:42. Alhamdulillah, sudah 7 hari kita menjalankan ibadah Puasa. Saudaraku yg dirahmati Allah, jujur perkataan yang selalu dituntut dalam kehidupan sehari-hari, kata yg teramat mudah diucapkan namun menjadi sesuatu yang lmahal dalam kehidupan kita saat ini. Jujur dalam kehidupan sehari-hari; sesungguhnya merupakan tuntutan dari Allah dan Rasulnya. "Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke sorga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya" (Alhadist). Hiduplah seorang budak yang bernama Mubarok, Menurut suatu riwayat ia pernah bekerja di sebuah kebun milik seorang majikan. Ia tinggal di sana beberapa lama. Kemudian suatu ketika majikannya -yaitu pemilik kebun tadi yang juga salah seorang saudagar kaya dari Hamdzan- datang kepadanya dan mengatakan, "Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis." Dengan sigap si budak yang bernama Mubarok pun bergegas menuju salah satu pohon dan mengambilkan delima yang diminta. Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata ia mendapati rasanya masih asam. Ia pun marah kepada Mubarok sambil mengatakan, "Aku minta yang manis malah kau beri yang masih asam! Cepat ambilkan yang manis!". Ia pun beranjak dan memetiknya dari pohon yang lain. Setelah dipecah oleh sang majikan; sama, ia mendapati rasanya masih asam. Kontan, majikannya semakin naik pitam. Ia melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya, majikannya mencicipinya lagi. Ternyata, masih juga yang asam rasanya. Setelah itu, majikannya bertanya, "Kamu ini apa tidak tahu; mana yang manis mana yang asam?" Mubarok dengan tenang menjawab. "Tidak.Tuanku "Bagaimana bisa seperti itu?" "Sebab aku tidak pernah makan buah dari kebun ini sampai aku benar-benar mengetahui (kehalalan)nya." "Kenapa engkau tidak mau memakannya?" tanya majikannya lagi. "Karena anda belum mengijinkan aku untuk makan dari kebun ini." Jawab Mubarok. Pemilik kebun tadi menjadi terheran-heran dengan jawabannya itu .. Tatkala ia tahu akan kejujuran budaknya ini, Mubarok menjadi besar dalam pandangan matanya, dan bertambah pula nilai orang ini di sisi dia. Kebetulan majikan tadi mempunyai seorang anak perempuan yang banyak dilamar oleh orang. Ia mengatakan, “Wahai Mubarok, menurutmu siapa yang pantas memperistri putriku ini?" "Dulu orang-orang jahiliyah menikahkan putri- putri mereka lantaran keturunan. Orang Yahudi menikahkan karena harta, sementara orang Nashrani menikahkan karena keelokan paras. Dan umat ini menikahkan karena agama." Jawab Mubarok. Sang majikan kembali dibuat takjub dengan pemikirannya jitunya ini. Akhirnya majikan tadi pergi dan memberitahu isterinya, katanya, "Menurutku, tidak ada yang lebih pantas untuk putri kita ini selain Mubarok." Mubarok pun kemudian menikahinya dan mertuanya memberinya harta yang cukup melimpah. Di kemudian hari, isteri Mubarok ini melahirkan Abdullah bin al-Mubarok; Seorang alim, Pakar hadits, Zuhud sekaligus mujahid. Yang merupakan hasil pernikahan terbaik dari pasangan orang tua kala itu. Sampai-sampai Al-Fudhoil bin 'Iyadh Rohimahullah mengatakan seraya bersumpah dalam perkataannya-, "Demi pemilik Ka'bah, kedua mataku belum pernah melihat orang yang semisal dengan Ibnu al-Mubarok. Bagaimana potret kehidupan kita saat ini, apa yang terjadi pada hari ini, kecurangan dan penipuan sudah semakin banyak terjadi dalam kehidupan kita. Sangat jarang kita temukan orang jujur lagi dipercaya dalam menunaikan amanah serta yang jauh dari sifat curang dan penipu. Belajar dari seoarang Mubarok yang berani berkata jujur walaupun itu pahit, karna sekali kita bohong selamanya dampak kebohongan itu memberikan pengaruh yang sangat-sangat jelek dalam kehidupan kita, .. Lihat akhir-akhir ini para politisi menunjukkan kebohongan publik, mungkin manusia bisa dibohongi tetapi bagaimna Allah, yg tidak pernah tidur walau sekejappun. Saudaraku, tiada keindahan yang menyejukkan dari pada kebahagiaan karena " kejujuran ". Walaupun ia barang mahal di abad ini, namun tidak satupun insan yang tidak ingin memilikinya. Islam menganjurkan berlaku jujur bagi kita apa pun profesi kita dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Saat ini kita beruntung berada di bulan Ramadhan, bulan yang melatih kita untuk senantiasa berlaku jujur, kita mampu berhaus dan berlapar ditengah teriknya matahari dan kita belajar untuk jujur dengan tidak makan dan minum walaupun sebenarnya hanya kita sendiri dan Allah yang mengetahui bahwa kita benar-benar berpuasa atau tidak. Kalau ini sudah menjadi pedoman bagi kita, maka terciptalah kejujuran dalam diri kita dan kalau kejujujuran sudah tercipta otomatis tidak akan ada masalah-masalah sosial yang muncul dalam kehidupan kita. Kejujuran ini sepatutnya tidak hanya diterapkan dalam pelaksanaan ibadah puasa pada bulan Ramadhan ini, tapi hendaknya harus diterpkan dalam pelaksanaan aktivitas lain dalam kehidupan sehari-hari. "Berlaku jujurlah, karena sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebaikan, dan sesungguhnya kejujuran itu menuntun ke surga. Dan jauhilah dusta, karena dusta itu menyeret kepada dosa dan kemungkaran, dan sesungguhnya dosa itu menuntun ke neraka." (HR Bukhari). Berlaku jujur memang sulit manakala kita berbenturan dengan kepentingan tertentu yang bersifat duniawi. Namun celakalah kita bila rela mengorbankan kejujuran demi kepentingan materi, pangkat, jabatan dan semacamnya. Kita terjebak bujukan hawa nafsu yg membisilan bahwa dengan banyaknya materi kita segera akan dihormati orang banyak, dengan ketinggian jabatan dan kedudukan yang kita sandang serta merta mendapatkan penghargaan dan prestise di masyarakat. Beginilah awalnya hawa nafsu menjebak diri sehingga munculah spekulasi kebohongan untuk maksud asal bapak senang, menghalalkan segala cara, menumpuk kekayaan di atas keprihatinan orang lain, tidak peduli akan terjadinya kesenjangan sosial, dan meningkatnya angka kemiskinan. Alhasil, kebohongan demi kebohongan dengan mudah kita lakukan demi kesenangan dan kenikmatan sesaat. Ada seorang sahabat masuk Islam, yang sebelumnya sangat gemar melakukan dosa besar berzina, berjudi, merampok, dan lain-lain. Dengan sangat jujur dia ceritakan perbuatannya ini di hadapan Rasulullah. Setelah Nabi memahami apa yang ia kisahkan itu, beliau memberi fatwa kepada sahabat ini dengan satu kalimat pendek, "Jangan berbohong.". Awalnya, ia menganggap begitu sepele permintaan Rasulullah ini, namun ternyata implikasinya begitu indah, mampu membebaskannya dari segala perbuatan dosa. Setiap ada keinginan berbuat dosa, ia selalu teringat pada nasihat Nabi saw. Sedangkan untuk berkata jujur bahwa ia telah berbuat kejahatan, ia malu dengan dirinya sendiri. Akhirnya, dengan kesadaran penuh ia pun meninggalkan segala perbuatan dosa dan menjadi pengikut setia Rasulullah. Menukil catatan Ihsan M Rusli, Ramadhan adalah latihan kejujuran yang sangat fundamental bagi kita umat Islam. Tidak seorang pun tahu persis apakah kita berpuasa atau tidak selama Ramadhan, karena yang tahu hanya diri kita dan Allah. Di sinilah kita diajarkan bagaimana berperilaku jujur, tidak berdusta sedikit pun. Kalau kita mengaku berpuasa lalu secara sengaja diam-diam minum dan kemudian tetap mengaku berpuasa maka hilanglah kejujuran dari diri kita. Esensi puasa dengan seluruh keutamaannya tidak akan pernah kita raihnya. Sejatinya seluruh ibadah yang dituntunkan oleh agama yang agung ini adalah kawah candradimuka untuk mengokohkan sikap kejujuran. Ini juga semacam evaluasi bagi sikap dan amal keberagamaan kita. Kalau kita beragama secara konsekuen dan istiqamah mengapa kita harus takut dengan kejujuran? Semoga Ramadhan mengembalikan semangat dan keteguhan kita untuk selalu memegang nilai-nilai utama yang menjadikan kita sebagai insan terbaik yang pantas dicintai oleh Allah Abdullah bin Dinar meriwayatkan, suatu hari ia melakukan perjalanan bersama Khalifah Umar bin Khathab dari Madinah ke Mekah. Di tengah jalan mereka berjumpa dengan seorang anak gembala yang tampak sibuk mengurus kambing-kambingnya. Seketika itu muncul keinginan Khalifah untuk menguji kejujuran si gembala. Kata Khalifah Umar, "Wahai gembala, juallah kepadaku seekor kambingmu." "Aku hanya seorang budak, tidak berhak menjualnya," jawab si gembala. "Katakan saja nanti kepada tuanmu, satu ekor kambingmu dimakan serigala," lanjut Khalifah. Kemudian si gembala menjawab dengan sebuah pertanyaan, "Lalu, di mana Allah?" Khalifah Umar tertegun karena jawaban itu. Sambil meneteskan air mata ia pun berkata, "Kalimat 'di mana Allah' itu telah memerdekakan kamu di dunia ini, semoga dengan kalimat ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak." Kisah di atas merupakan gambaran pribadi yang jujur, menjalankan kewajiban dengan disiplin yang kuat, tidak akan melakukan kebohongan walau diiming-imingi dengan keuntungan materi. "Allah berfirman:"Ini adalah suatu hari yg bermanfaat bagi orang-orang yg benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yg mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, & merekapun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yg paling besar". (Al Maidah:119). Marilah saudaraku kita memerdekakan diri kita didunia dengan kejujuran agar Allah memerdekakan kita diakhirat-Nya kelak. Mohon maaf atas kekurangan, andai ada hikmah itu berasal dari-Nya. Wallahu muwafiq illa aqwamith thariq.

1001 Essensi dari LAILATUL QHODAR

Lailatul Qadar 

Secara etimologis, “lailah” artinya malam, dan “al-qadar” artinya takdir atau kekuasaan, secara harfiah diartikan malam penentuan atau malam kemuliaan. 

Secara metaforis disebut malam seribu bulan. Suatu malam permulaan Alquran diturunkan oleh Allah SWT.
“Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadar)” (QS Al-Qadar (97):1)
Dari pernyataan bahwa Al-Qur’an tersebut diturunkan pada saat Lailatul Qadar, dapat kita tangkap pengertian, yakni; pertama , Lailatul Qadar merupakan dari suatu malam, saat diturunkan Al-Qur’an secara keseluruhan. Dalam masalah ini, para Muffasir menjelaskan bahwa Lailatul Qadar itu adalah saat diturunkannya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuzhke Baitul’Izzah, sebelum diwahyukan kepada Rasulullah SAW secara berangsur.

~ Keutamaan Lailatul Qadar

1. Lailatulqadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta'ala berfirman , "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan." (QS. Al Qadar: 1).

2. Lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho'i mengatakan, "Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan." Mujahid & Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dg lebih baik dari 1000 bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar.

3. Menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihiwa sallam bersabda, "Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman & mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari no. 1901)


~ Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?

Kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar AlAsqolani telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini.Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimanadikatakan oleh beliau adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahunke tahun (Fathul Baari, 6/306, Mawqi' Al Islam Asy Syamilah). Mungkin pada thn tertentu terjadi pada malam ke-27 atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam ke-25, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta'ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa." (HR. Bukhari no. 2021)


Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.

~ Tanda Malam Lailatul Qadar

1. Udara & angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan." (HR. Ath Thoyalisi.Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)

2. Malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebutdan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hariyang lain.

3. Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

4. Matahari akan terbit pada pagi harinya dalamkeadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka'ab bahwa Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik." (HR. Muslim no. 1174)

~ Do'a di Malam Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do'a pada lailatul qadar, sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah.Beliau radhiyallahu 'anha berkata, "Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?" Beliau menjawab, "Katakanlah: 'Allahumma innaka 'afuwwuntuhibbul 'afwa fa'fu anni' (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi MahaMulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku)." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)


~ Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketikaitu, menjauhi istri-istrinya dari berjima' & membangunkan keluarga u/ melakukan ketaatan pada malam tersebut. 'Aisyah mengatakan, "Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan),beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dariberjima'), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya."(HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 117)

Adapun yang dimaksudkan dg menghidupkan malam lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dg ibadah & bukan seluruh malam. Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi'iyah. Menghidupkan malam lailatul qadar bukan hanya shalat, bisa pula dg dzikir & tilawah Al Qur'an (Lihat 'Aunul Ma'bud, 3/313, Mawqi' Al Islam, Asy Syamilah).Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, "Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadarkarena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari )

Persahabatan Dengan ALLOH SWT

Bersahabat dengan Tuhan 

SALAH satu konsep persahabatan dengan Tuhan ialah konsep penyatuan dengan Tuhan (wahdatul wujud). Konsep ini digagas oleh seorang teosofi bernama Muhyiddin Ibn Arabi. Agak mirip dengan , yaitu unsur nasut dalam diri manusia dikonsepsikan sebagai makhluk (al-khalq) dan unsur lahut dikonsepsikan sebagai haq (al-haq). Semua makhluk sebenarnya mempunyai kedua aspek ini. Aspek luar atau lahir (dhahir/accident) disebut Al-khalq dan aspek dalam (bathin/substance) disebut al-haq. Aspek pertama disebut mempunyai sifat kemakhlukan dan aspek kedua mempunyai sifat ketuhanan. Tuhan ingin melihat diri-Nya di luar diri-Nya maka terciptalah alam ini. IbnuArabi seorang sufi sekaligus filosof menggambarkan alam ini sebagai cerminan (tajalli) dari Tuhan. Di kala Ia ingin melihat dirinya maka Dia melihat alam. Pada setiap benda (makhluk) terdapat unsur atau sifat ketuhanan. Dari sinilah muncul faham kesatuan. Yang ada dalam ini kelihatannya banyak tetapi sebenarnya satu. Ibarat seseorang melihat dirinya dalam beberapa cermin. Kelihatannya banyak tetapi obyek sesungguhnya hanya satu. Penjelasan lainnya, manusia ibarat melihat ke dalam cermin. Hakekat wujud sesungguhnya bukan yang terdapat di dalam cermin itu, meskipun sama persis dengan apa adanya di dalam cermin itu. Hakekat wujud yang sesungguhnya ialah yang di depan cemin itu. Kita atau para makhluk itulah yang di dalam cermin tetapi yang di depan cermin itulah hakekat wujud yang sebenarnya.Mirip yang dikatakan oleh filosof Parmenides: Yang ada itu satu, yang banyak itu tidak ada. Yang berwujud selain Tuhan adalah wujud ilusi (palsu). Wujud yang sebenarnya atau wujud hakiki ialah Tuhan. Jika manusia ingin berjumpa dengan Tuhannya cukup menghayati secara mendalam alam raya ini. Siapa yang memahami dirinya maka ia akan memahami Tuhannya (man arafa nafsahu fa qad arafa Rabbahu).Konsep wahdatul wujud banyak menimbulkan kontroversi di kalangan ulama, khususnya ulama fikih. Ini bisa dimaklumi karena cara pandang dan kacamata yang digunakan antara keduanya berbeda. Pada saatnya kalau seseorang memiliki wawasan luas dan komprehensif, cenderung tidak gampang menyalahkan orang lain, seperti kara hukama: Orang yang gampang menyalahkan orang lain pertanda masih harus belajar, orang yang mulai menyalahkan dirinya sendiri sudah mulai belajar, dan orang yang tidak menyalahkan siapapun sudah selesai belajar, karena sudah arif.

Mahligai Ber Nilai Nol

Kau tau.............
Q lemah.
Kau tau...............
Q rapuh.
Kau tau............
Q tk smpurna.
Kau tau
Q pnuh dg dosa.............
Q tau
kau bARU sja mngnal Q.........
Nmum kau memilih Q..
Kau ajarkn arti khdupan.............
kau knalkn arti prsHbtn
kau brikan kasih sayang
Trkadang Q bingung
trkadang Q
trsyum pd diriQ sndri..
Sering kali Q malu trhdpmu..
MALU kn diriQ..
ImanQ lemah.
IlmuQ trbatas..
HatiQ mudah mnangis..
Nmu kau ttp mmilih Q...
Q brfikir
bgmn..Q mmbalas akn smua ni..
Smua.. Yg kau brikan kpdQ..
Nmun kau mnolak dg snyum manizmu..
Snyum yg sllu mngindahkan duniaQ..
Ku cob@ brtny pdmu
"APA YANG KAU LIHAT DARI KU..?"

aku berdoa kepada Allah...........
Aku berdosa kepada sesama hamba......
Semoga silaturahmi ini
akan selalu terjaga...........
Dan semoga kita termasuk umat yang diridhoiNYA
أصلي إلى الله.. نأمل أن تكون هذه الصداقة دائما مستيقظا.. ونحن قد تشمل الناس الذين أنعم الله... آمين
salam hangat dari sahabatmu.